PUISI-PUISI KEPADA SEORANG KAWAN (dalam beberapa bagian)

Kamis, 03 Maret 2011

 OLEH :
 AMIN BASHIRI


kepada seorang kawan (bag. 1)
: Lukman  Tambusi

puisi,
puisikanlah jiwa yang renta itu
jangan biarkan sungai mengalir air matamu, saat kematian datang  dan sunggih di sudut bibir mulai merayap menghapusnya
kita hanya perlu paham satu arah, dimana keabadian selalu menjadi rumah beratap ijuk dan berlantai empuk: rumah yang pernah kita rencanakan sebelumnya.

di suatu waktu, puisi
adalah puisi untuk hatimu yang luka, nganga tak akan terhenti mengucur pada setiap perih yang selalu saja hadir di dada kita sebagai tamu, sebagai badai sebagai harap yang cemas..

puisi,
puisikan kemarahanmu tentang cerita
puisikan keinginanmu dan semesta yang mengungkungnya, puisi itu puisi yang lahir dari rahimnya, dari rahimmu

jika hujan masih senantiasa mengawinkan angin dan mendung, maka hadirlah dalam puisi
sebab puisi ada diantaranya,
kilat gelegar
beliung hembus
gempa retak
dan pada akhirnya kita akan berpulang, menuju rumah itu

 Sumenep, 2010


kepada seorang kawan (bag.2)
:Lukman Hakim AG

larik-larik hujan masih berdiskusi tentang persitegangan antara dua pasang mata yang nanar. kita sudah lelah beradu, bertamu pada setiap kata, pada setiap  jeda yang hampir menjadi bait dalam lingkar atap yang sama

hanya saja sajakku tak begitu sanggup melagukan melankolia daun mawar itu, terlalu rapuh kawan jika harus ku samakan jejak-jejak dibalik hujan kemarin. dan aku masih setia menulisnya

pada suatu waktu, saat itu jam berputar melebihi putaran detik ke menit
 aku ingat saat kita bersajak dan berlari pada setiap lengkung warna pelangi
di musim penghujan. kita gugat awan
“oi..pituturku ombak, teriakku guntur”

 Sumenep, 2010


kepada seorang kawan (bag.3)
: S. Ajida Fajri Yazido

mengeja,
luka bersama
di lumbung tak bertubuh itu, desah hangat tersimpan
ingatan kita
ingatan duka

jalan-jalan  sudah belukar, menuju peraduan kamboja yang sering kau katakan
dan seorang perempuan bermata angin itu selalu saja menjadi pemacu, saat kau tulis sajak dari serat-serat dedaun. sebelumnya, kau pernah bilang bahwa angin juga akan berhenti jika semua mengerti bahwa pada setiap batu yang diam adalah kebenaran

bertubuh pada alam, suaramu melengking
petuah dinding-dinding bambu yang mengantar langkah menuju hidup selanjutnya
di balik gigil,
arah sungai  menjadi pengantar suratmu

Sumenep, 2010



kepada seorang kawan (bag. 4)
: Em Ridwan

bila musim berkata jujur
saat ini dingin penghujan
hanya saja aku belum menemukan sajakmu yang nakal

kuingat ketika pertama kali kau tanam sajak-sajak kecil  di dadamu,
ingin kau tumbuhkan di antaranya akar serabut bunga kamboja
sejenis purnama, mungkin seperti itu
di kepalamu juga kau ukir  perihal kematian seorang perempuan yang selalu sunyikan senyum di belantara rambutmu, perempuan yang kau tulis berepisode dua puluh lima

kau tidak linglung kawan,
kau hanya butuh pemanis sejenak
pada puisi-puisimu yang mengajariku membaca aksara

Sumenep, 2010



kepada seorang kawan (bag. 5)
:Awie

labirin waktu,
itu sering kau bilang padaku saat pertamakali kita hujat mendung
waktu itu angin sedang sepoi meniadakan dahsyat badai, bagai larik api  memanjat di sebilah pucuk laras tajam pedang
, kau berasajak dengan rambutmu
 ungu dan nila sualaman pelangi saat itu di wajah rerumput, tanpa embun

berkisah tentang jarak, adalah senyummu
kau berkisah kawan. bukankah jarak dan waktu adalah kau sendiri yang mendekaminya
aku hanya sebagian dari kisahmu yang terulang
di musim berikutnya, entah apalagi yang kau bawa

Sumenep, 2010


kepada seorang kawan (bag. 6)
:Day

seperti meminum segelas kopi,
kau adalah asap bermunculan. mengepul
udara menyisakan bau gerimis semalam, tapi nalurimu masih terlalu bijak untuk berkata bahwa hujan hari kemarin adalah hujan yang lahir dari mata mereka: yang merindukan kita

tak pernah kau bersikukuh dengan luka untuk sebuah perjanjian
sekedar mengulang tangis lepas, tapi pasrah
ya, mungkin terlalu panjang kau uraikan kisah itu, kisahmu dengannya

aku lalang, kawan
mataku sepasang api
dadaku perisai, dan tanganku pedang berkilat guntur
-isakmu terus bergelayut dari ranting ke ranting ingatan

dengan segelas kopi,
aku kembali mengingatmu. disini

Sumenep, 2010


kepada seorang kawan (bag. 7)
:Ozie

masih terekam, suara gelegar itu
menyunggih purnama untuk kau ikutkan dalam perlombaan di waktu berikutnya

alismu, laut menepi
tak jadi gelombang, tak jadi badai

Sumenep, 2010


kepada seorang kawan (bag. 8)
:Al

kau resi,
anggun pertapamu adalah birahi waktu
dengan sejumlah jarum yang siap kau tusukkan dimataku, kau berlari
menganyam pagi, menari

saban hari, kau lukai waktu dengan sajak-sajakmu,
sajak-sajak ngilu tentang paha, buah dada dan  selangkangan
seperti di kepalamu yang kau kata adalah tanduk itu, kau ikrarkan sebagai nisan

kawan,
langkahmu jejak dalam malam
jika kau tulis napsumu, maka itu adalah rindu
puisi,
(puisi hati, puisi hati)
puisimu, perempuan yang menggelepar pasrah di ujung pertemuan antara malam dan pagi, lebih tepatnya subuh menanti.
 puisimu, abadi

Sumenep, 2010


kepada seorang kawan (bag. 9)
:Nur

matahari nur, mata air hidupmu dan anak itu
kau tak pernah lelah mengajariku bercengkerama dengan empat musim yang menandai semuanya dengan kata: hujan, panas, semi dan gugur
maka lihatlah!
sajakku, sajak kaku
sajak ungu

matahari nur, mata air  timang pangkuanmu
pada setegar daun mawar, kelopak bertahta bebunga, aku titip kejantanan kepak sayap kupu-kupu: disana permayaman terjadi, bertunas benih tumbuh dalam wujud baru

langkah ini masih belum selesai nur, pagi menanti harapmu dan anak itu
ingat mimpi dan pasrah yang pernah ia katakan
: lakilaki dalam hidupmu adalah waktu

Sumenep, 2010


kepada seorang kawan (bag. 10)
:Andi Nyalam

di luar jendela berderit daun pintunya, nganga deras sisa hujan masih menetes: gerimis
ada namamu mengajakku menari pada sebentuk tetes itu, mungkin kita sama-sama rindu memaknai sepi yang menguji,

kawan, nyaliku tak cukup besar untuk itu
tak perlu bermimpi panjang lebar, cukup kau tulis saja aku dalam puisimu
maka kita akan beradu,

perihal musim yang kita gubah kemarin telah semi, gugur menanti perjumpaan kita selanjutnya
kau mau pilih mana,
di gerigi talas atau runcing melati?
sebab tak mampu kusuguhkan tempat bermukim selain keduanya

Sumenep, 2010


kepada seorang kawan (bag.11)
:Mahendra

tubuhmu ular
aku tulang retak di dalamnya
seperti bajak laut,
kau perompak dalam sajak-sajakmu

gelembung udara
episode kapal api
ikan gabus
dan manekin

kawan: sajakmu membakarku
 Sumenep, 2010


kepada seorang kawan (bag.12)
:Syah Latief

maut itu, kawan
adalah lihaimu yang letih merampung kisah bulan dan bintang

di bawah teriknya kita sempat berencana mengintip purnama, tak hanya sekali tapi berulang pada suatu waktu berepisode sama.
kawan, lagu itu telah kau gubah menjadi puisi, menjadi tulisan-tulisanmu yang mencambukiku hingga memar
pada sekeping cambukan terakhir di telingaku, aku jadi tersadar dan bangun

ternyata aku belum mampu sepertimu

 Sumenep, 2010


kepada seorang kawan (bag.13)
:Luna

dan masih saja angin sepoi ini mengingatkanku pada sumpahmu,
perihal dendam yang masih kau simpan untukku
tapi aku tahu, dendammu kesumat suci

jam itu
akan berputar
entah berapa kali putaran menuju waktu yang tak bisa kita kira,
dan pasti berakhir pada masa: saat itu kau berhasil mengalahkanku

Sumenep,2010


kepada seorang kawan (bag.14)
:Fief, Us

pernahkah kau lihat kupu-kupu?
sayap yang merentang di pungungnya itu adalah kau dan napasmu
meski tersengal mengeja aksara, kau jauh melangkah pada seribu wajah di laut dan awan, mereka menyatu seperti halnya kau yang menyerupainya

ada angka bergelantung di satu ranting kepalamu, tentang  dunia
bukankah begitu?
semisal kutawarkan manis madu ratu lebah, kau mungkin akan menolaknya
tapi kau lebih memilih duduk bersandar dengan sebongkah puisi yang kau lahirkan,
kau tidak membuatnya kawan, tapi kau melahirkannya
dia anakmu
anak dari pikirmu,
anak semesta yang kelak jika besar akan memanggulmu menemui siapa sebenarnya dia
luka waktu tak dapat dipendam, tapi arus selalu saja menutupinya.

Sumenep, 2010


kepada seorang kawan (bagian akhir)
:Aku, Kau, Lonceng Dan Hujan


bunyi lonceng mengingatkanku pada saat pertemuan kita di tepian bundaran air mancur bertubuh gembul itu, di suatu malam saat purnama tak sempurna menunjukkan senyummnya dan gerimis tiba-tiba datang sekedar menyapaku:
“hei, apa kabarmu”

dan kau menudingkan jarimu memberi isyarat padaku perihal mendung,
“itu tadi hujan yang menyapamu, dia teman lamaku “
sejak saat itu pada malam-malam berikutnya aku selalu belajar menuding dengan dengan telunjuk mengarah ke langit dan berkata: hujan adalah temanku

bunyi lonceng berikutnya, megingatkannku saat kau bercerita perihal keakrabanmu denganku:
 “aku lihat guntur dimatamu, aku lihat gelombang pada katamu, aku lihat warna pada langkahmu, itulah kenapa ku selalu bergetar ketika mendengar namamu”
 begitulah, sepenggal kalimat yang terbisik ketika kita sempat berjamu untuk yang kesekian kalinya.
(saat itu tak ada hujan, dan kau tak menuding lagi kearah langit. tapi lonceng tetap berbunyi)

malam-malam setelahnya, bunyi lonceng hanya berbatas pada jarum yang jatuh di atas jerami, hujan mengintip saat mendung mulai datang…dan kau tak pernah lagi berkata-kata, menuding bahkan bercerita.

dengan tiba-tiba aku segera berlari
disebelahku ada sepasang capung merah sedang bertengger pada kelopak dahlia, aku berbisik: aku rindu bunyi, hujan dan dirinya yang menuding langit lagi

sumenep, 03 november 2010

0 komentar:

Posting Komentar